Teman Sesaat ku..
March 31, 2013 at 9:41am
Karya : Fadilah PutriBeberapa kali ku buka dan kubaca buku fisika itu. Tetapi niat ku untuk belajar benar-benar tidak tersisa sedikit pun. Dengan rasa sedikit malas, ku putuskan untuk pergi ke rumah teman dekatku, Imel. Rumahnya lumayan jauh, tetapi ku paksakan diriku untuk berjalan. Perjalanan yang panjang. Aku hanya menunduk, memandangi bayangan ku yang bergerak mengikuti langkahku. Di tengah perjalanan, aku bertemu dengan seseorang yang telah begitu lama ingin ku lupakan. Ingin rasanya aku menghindar, tetapi, hal itu tidak bisa ku lakukan. Aku hanya tertunduk bisu. Jantungku berdebar dengan begitu kencang.
“Mau kemana, Put ?.” Tanyanya pada ku.
“Mau kerumah teman.” Ucapku singkat dan sedikt pelan.
“Kalau begitu, biar ku antar.”
“Nggak usah, Fiq. Aku bisa sendiri.!” Jawabku melanjutkan langkah ku dengan cepat tanpa sedikitpun menoleh padanya. Kurasakan sakit di dasar hatiku. Namun, kenapa sakit itu datang padaku tanpa ada alasan yang jelas. Di perjalanan, ku terus mengolah otakku dan memahami hendak hatiku. Namun, tak dapat titik terang. Sampai akhirnya, langkahku terhenti sejenak. Kurasakan otakku telah mulai mendapatkan hal yang dari tadi ku pikirkan. Perlahan air mataku menetes mengenai kemeja hijau ku, membentuk bulatan yang tiba-tiba mengingatkan aku pada kejadian itu. Kejadian dimana aku harus menanggung kesedihan yang begitu dalam. Karena dia dan keluarganya. Mengapa harus aku ?. tanya hatiku merintih membayangkan nya. Belum sampai aku melanjutkan perjalanan masa laluku, tiba-tiba, seseorang menepuk bahuku.
“Kamu kenapa, Put?” Suaranya begitu sangat ku kenal. Jantungku kembali berdegup kencang. Panas mentari seolah menjadi saksi akan kejadian hari ini. Aku berbalik arah dan menamparnya.
“Fiq. ! Aku mohon. Jangan terlalu baik padaku. Aku tidak menyukaimu. Aku harap, kamu mengerti akan maksud hatiku.” Ucapku dengan hati yang begitu miris.
“Kamu kenapa, Put ? Maksud mu apa? Apa kamu masih marah karena sikap orang tua ku pada orang tuamu ? Aku tidak mempersalahkan itu. Aku hanya ingin menjadi teman mu. Teman yang aku yakin benar-benar ada disaat kamu butuh.” Ucapnya meyakinkan.
“Tapi apa, Fiq?. Karena kesombongan orang tuamu, ayah ku sakit. Dan kini beliau sudah pergi, Fiq. Kenapa kamu tega ?.” ucapku sudah tak dapat menahan tangis. Ku berlari dengan sangat cepat. Tidak ku hiraukan dia yang memanggilku dengan keras. Dengan mata yang masih memerah, akhirnya aku sampai dirumah teman ku. Namun, kembali aku berbalik arah. Keinginanku untuk belajar sekarang benar-benar pupus karena masalah tadi. Aku hanya menunduk, merasa malu pada sang mentari yang seolah menertawakan ku.
“Aku bukan lagi sahabat mu, Fiq !. “ Hatiku mengucap janji.
Pagi yang tidak begitu baik. Gerimis pagi membuat ku benar-benar merasa takut untuk kesekolah. Kembali teringat olehku ketika ayah pergi dihiasi gerimis pagi. Aku sangat menyayangi beliau. Beliau adalah orang tua yang begitu dekat dan selalu ada disaat aku sepi. Tapi karena orang tua Fiqri, beliau menjadi sakit. Kembali air mataku menetes. Aku merindukan ayah. Merindukan disaat beliau hadir untuk menjadi ayah sekaligus ibu ku. Kini hanya tinggal aku dan nenek dari ibuku. kami tak memiliki apapun kecuali sebuah harmonika, pemberian dari ayah untukku. Setelah lama bergelut dengan masa lalu, aku lalu bangkit dan pergi mandi untuk bersiap ke sekolah hari ini walau hujan menakutkan ku.
Di sekolah aku hanya memandangi rintik hujan yang membasahi halaman sekolah. Pelajaran fisika yang diajarkan oleh guru di depan tidak sedikitpun masuk ke otakku.
“Putri !” ucap seseorang dari belakang. Tak sedikitpun aku menoleh. Aku tahu, dia adalah Fiqri. Aku juga tahu, mungkin juga dia memanggilku karena masalah kemaren.
“Hei, Put. Si Pangeran tampan memanggil mu tuh !.” ucap Imel menggoda ku.
“Apaan sih !.” ucapku pada Imel yang spontan terdiam melihat reaksi ku.
Pelajaran terus berjalan. Aku semakin tak sabar untuk keluar dari kelas ini dan pergi sejauh mungkin untuk menenangkan hati. Beberapa menit aku membayangkan, bel keluar pun berbunyi lantang. Imel dan seluruh anak-anak di kelasku berhamburan keluar meninggalkan buku dan pulpen mereka. Aku berjalan sendiri. Tiba-tiba, seseorang memanggilku, Imel.
“Kamu kenapa sih Put ? Dari tadi diam terus. Emang kamu lagi marahan ya sama Si Pangeran tampan ? Masa tadi dia memanggilmu, nggak kamu jawab ?” ucap Imel langsung. Aku hanya diam. Imel yang melihatku semakin jengkel dengan sifatku.
“Hei Putri, aku sahabatmu. Jawablah pertanyaan ku ini ! kamu kenapa ? lalu ada masalah apa kamu sama Fiqri ? jawablah. Setidaknya aku bisa memberi solusi pada mu.” Ucap Imel mulai membuatku menitikkan air mata. Aku berhenti melangkah. Begitu juga dengan Imel. Disaat itulah, aku memeluk Imel, lalu menangis di bahunya.
“Maafkan aku teman. Aku sudah tidak menjadi teman yang baik.” Ucap ku pelan.
“ Iya temanku. Harusnya aku bisa memahami mu dengan baik. Sekarang, katakanlah teman, apa yang membuatmu bersedih ?” ucapnya begitu lembut. Aku menurut.
“Fiqri itu jahat, Mel. Dia yang membuat ayah ku sakit yang lalu meniggalkan aku sendiri. Dia dan keluarganya pembunuh, Mel !.” ucapku. Imel kaget mendengar pengakuanku yang begitu tak masuk akal menurutnya.
“Apa yang kamu katakan, Put ? Yang aku tahu, dia bukan seperti itu. Mungkin kamu terlalu marah dengan kematian ayahmu itu, mangkanya kamu menganggap Fiqri jahat, padahal itu tidak seperti yang kamu fikir. Coba kamu bayangkan, kalau dia punya niat jahat, pasti dia tidak seperti itu padamu. Mencoba menyapa dan ingin dekat dengan mu.” Ucap Imel dengan lembut. Aku terdiam. Aku kembali berfikir, mungkin yang di ucapkan Imel benar.
“Mungkin benar katamu, Mel. Dia bukan jahat, tapi orang tuanya. Harusnya aku tak seperti ini padanya. Aku akan meminta maaf lalu mencoba menjadi teman yang baik untuk nya.” Ucap ku tersenyum memandang Imel. Dia hanya tersenyum. Kebahagian yang ku cari selama ini telah hadir di depan mataku.
“Terima kasih, teman.” Ucapku pada Imel. Lalu, kami berdua bersama-sama pergi untuk mengisi waktu yang saat itu masih beberapa menit lagi tersisa.
Pelajaran terakhir yang saat itu sedang di pelajari di kelas ku sungguh sangat ku perhatikan. Hatiku terasa nyaman setelah bercerita pada Imel. Tiba-tiba, Imel menepuk bahuku dan memberi ku selembar kertas.
“Kemana Si Pangeran tampan, Put ? Dari awal bel masuk tadi, aku tak melihatnya.” Ucap Imel pada kertasnya membuat ku berbalik ke belakang. Kursi Fiqri kosong. Yang ada hanyalah tas dan beberapa buku tulisnya di meja. Lalu, dari luar, sesosok tubuh masuk, Fiqri dan kedua orang tuanya. Aku memandangnya dengan teliti. Wajah nya menunduk sedih. Matanya juga merah. Kenapa dengan Fiqri ?. Aku melihanya terus tanpa berkedip. Lalu, dia berjalan ke arah mejanya melewati meja ku. Dengan lemah, dia memasukan buku-bukunya kedalam tas. Lalu, berbalik kembali ke depan kelas tempat orang tuanya berdiri. Disaat dia berjalan ke depan melewati meja ku, dia meninggalkan sebuah surat di atas mejaku, lalu berlalu dengan wajah kesedihan. Aku memandangnya sedih. Di depan kelas, aku melihatnya berbicara dengan orang tuanya, lalu dengan tatapan kesedihan, dia memanggil kami dengan suara lantang.
“Teman-teman. Maaf jika seandainya aku telah berbuat banyak kesalahan pada kalian selama ini. Sebenarnya aku tidak bermaksud jahat pada kalian semua. Aku hanya ingin berteman, itu sebabnya sikap dan kelakuanku kadang tidak teman-teman semua suka. Hari ini adalah hari yang akan aku ingat selamanya. Aku akan mengingat bagaimana kita selalu tersenyum bersama. Teman-teman, aku akan pindah ke luar kota. Aku tidak hanya sekedar pindah rumah, tapi aku juga akan pindah sekolah. Maka hari ini, aku menemui kalian semua untuk mengucapkan salam terakhir ku pada kalian...” Kata-kata Fiqri terus menggema di setiap sudut kelas. Aku hanya terdiam memandangnya. Di dalam dasar hati ku, Fiqri adalah teman yang baik, tapi kenapa di saat aku sudah mulai membuka pintu hati ku, Fiqri harus pergi meniggalkan aku.
“Put, haruskah kita mengucapkan kata-kata terakhir kita pada Si Pangeran tampan ?” Ucap Imel menangis pilu. Aku terdiam melihatnya menangis, tanpa sadar, air mata ku mulai mengalir. Beberapa saat aku berdialoq dengan Imel, Fiqri dan keluarganya telah berpamitan dengan guru yang saat itu tengah mengajar kami. Lalu kemudian berlalu. Sekilas aku melihat wajah Fiqri memohon padaku untuk mengejarnya. Akhirnya yang ku lakukan hanya terdiam di bangku ku dengan rasa yang masih belum percaya.
“Hei Put, kejarlah dia. Aku ingin kamu tidak menyesal untuk yang kedua kalinya. Dia tidak bakal kesini lagi, Put, maka, inilah waktunya kamu minta maaf padanya.” Ucap Imel membebaskan aku dari lamunan sepiku. Dengan cepat, aku mengeluarkan sesuatu dari tas ku, lalu berlari meminta izin untuk keluar. Dengan hati yang memohon, aku terus berlari hingga aku sampai di gerbang. Aku melihat Fiqri dan kedua orang tuanya hendak memasuki mobil, namun dengan suara lantang, aku berteriak ke arah Fiqri. Dia memandang ku dangan rawut wajah yang begitu berbeda. Senyum manisnya begitu menawan. Baru hari ini aku menyadari kenapa Imel selalu memanggilnya dengan sebutan ‘Si Pangeran tampan’.
“Fiq, kamu pergi terlalu cepat, teman.” Ucapku berjalan perlahan ke arahnya. Dia juga berjalan mendekat ke arah ku, hingga kami benar-benar bertatapan yang aku yakin inilah tatapan pertama ku pada lawan jenis sedekat ini.
“Maaf, Put. Aku seharusnya tidak menyakitimu seperti ini. Mangkanya, aku ikut bersama dengan orang tua ku ke luar kota supaya kamu tidak terganggu oleh ku, Put.” Ucapnya memandangku dengan sedikit tersenyum paksa. Aku terdiam. Dengan tangan yang bergetar, aku memberikan sesuatu padanya. Sebuah harmonika kenagan terakhir ku yang di berikan oleh ayah.
“Jaga ya, Fiq. Ini adalah benda yang berharga untuk ku. Alasan aku memberikannya pada mu, karena kamu adalah teman berharga ku, Fiq.” Ucapku menahan tangis.
“Iya, Put. Akan selalu ku jaga pemberian mu ini dengan baik, terima kasih, Put karena telah mengizinkan aku untuk menjadi teman berharga mu.” Ucapnya juga menahan tangis.
“Pergi lah, nanti ayah dan ibu mu jengkel melihat mu terlalu lama bercerita pada ku.” Tangan ku mendorong punggungnya. Dia berbalik arah. Lalu dengan sedikit berlari, dia menurut pintaku walau pandangannya tidak lepas dari ku. Tampa sadar, Fiqri menunjuk ke arah ku lalu dengan kedua tangannya, dia membentuk suatu simbol, kemudian simbol itu di arahkannya padaku lalu meletakkannya di dadanya. Aku hanya tersenyum malu. Dengan senuyum menawanya, dia masuk ke mobil dan berlalu. Pandangan ku tidak lepas memandang kepergian teman sesaat ku itu. Sambil berbalik untuk kembali, aku membuka surat pemberian Fiqri.
“Put, aku tahu, kamu pasti tidak bisa memafkan aku dengan hati yang tulus, tapi aku ingin menjadi teman terbaikmu, Put. Put, sesungguh nya, aku tidak hanya sekedar menginginkan kamu sebagai teman bercerita ku, tapi juga teman yang ada bersama mu... Put, aku tahu, ini tak sewajarnya yang diinginkan seorang sahabat, Put, tapi... Aku menyukai mu, Putria Fadilah.” Kalimat Fiqri dalam suratnya membuat ku terdiam. Aku tidak percaya, seorang yang aku anggap sebagai teman, ternyata menyukai ku.
“Aku juga menyukai mu, Fiqri Putra F.” Dengan suara pelan sambil menggenggam suratnya.
