Selasa, 06 Mei 2014

My Class of Scienceth ^^



 My Class Of ScienCeth


                “My Class of Scienceth “ adalah ceritaku tentang kelas ku saat ini yaitu kelas XI IPA 3 yang di urus oleh seorang guru fisika yang amat bijaksana yaitu Ummi kami Kurniawati Sp.d. Beliau adalah walikelas ku yang super care banget sama kelas kami, walau beliau tidak sering hadir pada saat kami goro dan membersihkan kelas, tapi beliau selalu ada buat kami yang lagi ada masalah baik pelajaran maupun hal yang bersifat privasi ^^ (thank’s Ummi :*)
            Selain wali kelas yang hero banget, aku juga punya teman-teman yang unik-unik plus gokil abizzzz :D this is it :
Dimulai dari ketua kelas kami M. Fiqri fadhlan. Dia adalah ketua kelas kami yang Bangorr abizz. sering kami satu kelas harus mengalami banyak cobaan dan derita karna ketua kami yang satu ini gaq over sensitive sama pengumuman. Walaupun begitu, dia sangat dicintai oleh rakyatnya (para the boys). :D lalu beranjak ke wakil ketua yaitu Ahmad Fackhri Pratama. Untuk ketua sama wakil ini udah bisa dibilang “surat dan perangko” mereka tu gaq bisa dipisahkan walau badai datang dan petir menyambar-nyambar, mereka gaq bakal bisa dijauhkan :D beranjak ke bendahara kami, Siska Alyas Sandra. Untuk bendara kelas ku ini, bisa dibilang bendahara paling sabar sedunia, bayangkan, untuk naggih uang kas kelas kami yang 29 orang, dia dengan lemah dan santun meminta pada kami satu persatu trus bagi temanku yang lagi kere gaq punya uang, Siska dengan sabar harus mengulang di lain hari (sabar Siska sayang ). Lalu sekretaris kelas ku, dia adalah Ifzi warti. Hmm.. jika mendengar nama temanku yang satu ini, pasti akan terbayang Debat Internasional. Kenapa tidak? Ifzi adalah anggota Debat di sekolahku. sering sekali Ifzi berdebat dengan teman-teman karna satu masalah yang gaq terlalu ribet, tapi jangan salah, kalau udah berdebat dengan nya, kami bisa KO. L lalu selanjutnya adalah Agung Tri sasongko. Dari namanya saja,   sudah bisa ditebak kalau agung adalah orang jawa. Tapi jangan salah, walau agung ini orang jawa, tapi dia tetap asik koq, apalagi agung adalah salah satu temanku yang pinter banget. Next, Almuh fajri. Yup. Temanku yang satu ini adalah anak kesayangan Miss Yesmiati, guru Pkn ku dikelas. Habis, suka banget nanya masalah politik sih!! and suka telat kalau hari sabtu, trus kalau sudah telat, hukumanya harus baca ayat. (Miss Yes banget ) trus teman satu jalan nya Almuh temanku ini adalah Rully Oktanugraha. Rully adalah temanku yang enjoy banget. Entah apa yang membuatnya bisa seperti itu, tapi jangan salah, temanku yang enjoy ini adalah pemain catur tingkat nasional lho.. (hebatkan )
Temanku yang unik selanjutnya adalah Brian M. Haera. Temanku yang unik ini adalah rajanya Tukang Tidur. Setiap pelajaran apapun itu Mipa atau Mips, selalu tidur. Tapi untuk Kimia, entah pakai sihir apa Miss Maisitah (guru kimia favorite kami), si raja tidur itu jadi gaq mau tidur-tidur pas pelajarannya. :D lalu temanku yang selanjutnya adalah Enes Zakiya. Enes adalah temanku yang fans banget sama EXO, boyband asal negeri ginseng,Korea. Walau Enes nge-fans banget sama EXO, tapi dia tetap gesit lho sama pelajaran (itu baru jagoan) trus gaq ketinggalan Indah Suci Wulandary. Yup. Dia temanku yang juga Fans berat EXO. Enes dan Indah adalah dua sejoli yang gaq pernah absen sama kegiatan EXO (dua jempol deh buat kalian J) trus teman ku yang selanjutnya adalah Desi Ardila Sari. Untuk temanku yang satu ini, banyak sekali pengalaman hidup yang bisa aku ambil darinya. Desi adalah temanku yang tangguh. Bahkan lebih tangguh dari temanku yang lainnya (empat jempol buatmu teman  J ) temanku yang juga gaq kalah uniknya adalah Dina Aulia Fitri. Dia adalah temanku yang tertutup banget. Apalagi kalau masalah handphone nya. Gaq pernah sekalipun aku bisa meminjam mobile kesayangannya itu. (mungkin didalamnya banyak rahasia kali) gaq lupa sahabat dekatnya Dina yaitu Fadhila Arifa. Temanku yang mempunyai awalan yang mirip dengan namaku ini adalah sohib dekatnya Dina. (mungkin karna dulu juga satu kelas). Selain dekat dengan Dina, Dila punya keistimewaan sendiri yaitu “Bumpa”. Keistimewaan itu dinobatkan kepadanya karna Dila adalah fans berat Kimbum, aktor ganteng asal Korea (wah.. Korea lagi) lalu gaq lupa sama temanku yang heboh banget yaitu, Fahkrul Rozi. Temanku yang satu ini selalu menyudutkan teman-teman dekatnya. Dan gaq terkecuali, si Ketua. Jika sudah mendengar Rozi mengeluakan argument, terkadang banyak yang mencekal, habis temanku ini suka menyudutkan (bukan Rozi namanya :D ) trus kalau sudah membicarakan Rozi, pasti akan terbayang dengan temanku yang imut-imut ini, namanya Oscar Wijaya Harlis. Untuk temanku yang satu ini, ada lebihnya loh ! temanku ini gesit bgd sama Biology. Sampai-sampai, temanku ini jadi murid kesayangan Mr. Azwir Alwi M.Si.
Trus teman ku yang care banget sama aku, Novi Putriana Dewi. Untuk temanku yang ini, dia adalah tempat curhatku dari berbagai macam permasalahan, gaq terkecuali masalah,, ehm..Y..... J
Kalau sudah ngomongin masalah teman curhat, lain lagi sama teman ku yang satu ini, yaitu Zelvia Putri. Teman ku yang ini best banget kalau ngomongin masalah curhat-curhatan, dan tambahan,, temanku ini tembem imut. Walaupun gitu, dia banyak fans nya looo :D. Trus teman ku yang juga banyak fans nya, Dicky Setiawan. Dia adalah teman ku yang gaya nya cool banget, trus gaq lebay kayak ketua dan wakil dikelasku. Trus tambahan, dia adalah pacar temanku, dia adalah Karina Dwi Septiani. Temanku ini adalah cweknya Dicky. Orangnya manis. Sempat waktu pembagian rapor kemaren, dia pindah sekolah, tapi seminggu setelah itu, comeback to the scienceth again :D. Kalau ngomongin Karin, rasanya gak lengkap kalau gaq ngomngin Riska Sonia. Dia adalah teman dekat karin di kelas. Habis sama-sama dari daerah yang sama :D. Trus ada lagi, namanya Nurfajri Ayu. Dia adalah teman ku yang hebat banged speaking english, sampe-sampe dia ikut debat b. Inggris dengan teman ku yang lainnya. Ada lagi, namanya Etika Puri Widiastuti. Dia adalah temanku yang gaq bisa marah. Kadang dia selalu jadi bahan lawakan teman-temanku dikelas, walaupun gitu, temanku ini tetap tersenyum dengan lemahnya :D. The next, Feri Kurniawan. Wah,, kalau temanku yang satu ini cantil banget, hampir tiap papasan sama aku, selalu matanya kedip-kedip kayak lampu motor yang udah rusak. Aku gaq tau maksudnya apa, hanya saja mungkin hanya becanda :p. Trus Irfan Pratama Putra. Dia adalah temanku yang pinter banged nyanyi lagu melayu. Habis suaranya tu imut-imut kayak cwek :D.the next, namanya Mita Afrilia. Dia adalah pakar matematika. Kenapa aku membuat simpulan seperti itu, karena temanku yang satu ini gaq bisa kalau gaq berurusan dengan angka-angka. Dia tu cekatan banged kalau berhitung, walaupun gitu temanku ini kurang suka sama b. Inggris. Trus ada Ranti, dia adalah temanku yang baik banged, habis temanku yang satu ini gaq marah kalau kami foto-foto di handphonenya, sampai-sampai, memori telphone nya penuh dengan foto-foto kami. Trus ada Rahma Yuda. Temanku yang imut ini adalah temanku yang memiliki suara terkecil di kelasku (maaf yuyud :D) walaupun gitu, temanku ini tetap cekatan.  Trus yang terakhir adalah Zainul Arasy. Temanku ini adalah salah satu anggota REMESLA. Habis temanku ini mahir banged sama urusan yang berbau dengan agama.  
Itu ceritaku tentang Scienceth. Walau kami berbeda-beda, tapi kami masih mengedepankan kebersamaan, walau masih banyak gaq kompaknya. J (visss J )
SCIENCETH ( Science Eleven Three J )

With love,
F.I

Cerpen : Ini Jalan ku, Mey !!




Ini Jalanku, Mey!

            Desember baru saja lewat. Lega rasanya melewati hari-hari sulit dibulan ini. Desember yang membuat hatiku resah, bingung, dan bimbang. Desember yang nyaris mengotori iman. Desember yang mehadirkan wajah memelas milik Mey, sahabatku.
            Please, Arif, sekali ini saja. Kirimi aku sebuah kartu Natal yang spesial. Kamu selalu oke kalau bikin kartu semacam itu.” Aku terdiam, bingung harus ngomong apa ke Mey. Gadis itu cemberut memandangku.
            “Waktu lebaran kemaren, aku kan ngirim kartu juga ke kamu. Lupa ya, Arif ? Ayolah, masa kamu tega menolak permintaan seorang teman yang semanis aku.” Rayunya membuatku semakin bingung. Ya, hampir dua tahun ini aku berteman dengan Mey, hanya teman biasa. Tak mungkin aku pura-pura lupa bahwa dialah yang banyak membantuku sejak pertama kali bersekolah disini. Dia yang pertama kali menyapa dan berkenalan dengan ku, juga selalu ada disaat aku butuh teman sebagai tempat bertanya ku. Mey gadis yang manis, baik, lepas dari dia seorang Nasrani. Dan Natal tahun lalu aku berhasil menyiasatinya agar tak perlu mengucapkan selamat Natal padanya, tapi tahun ini ?
            “Mau kan, Arif ?” Kali ini Mey menggenggam tangan ku.  Aku mencoba melepaskan, tapi kembali tangannya menggenggam tanganku.
            “Besar sekali arti sebuah kartu untukmu ?” tanya ku hati-hati, merasa tak enak hanya mendiamkan nya. Mey tersenyum.
            “Tentu, teman. Itu menunjukan betapa pedulinya kamu padaku. Jangan lupa, aku akan menunggunya.” Ucapnya. Aku kembali terdiam dan memandanginya yang berjalan menghampiri teman-temannya.
            Kuhempaskan nafas kuat-kuat. Ya Allah, sampai rasanya putus lengan dan kakiku bolak-balik naik turun tangga dari lantai dasar sampai lantai teratas sebuah Mall hanya untuk mencaikan kartu yang cocok untuk Mey. Sia-sia, tak ada kartu yang sesuai dengan keinginanku.  Aku melupakan sesuatu, Mey menyuruh ku untuk membuat sendiri kartu itu. Dengan ringan, kembali aku naik ke lantai teraras Mall tersebut. Aku akan membuatkan kartu spesial untuk Mey.
            Sekilas dapat kucium wangi kartu merah hati berbentuk bulan sabit dan bintang ditengahnya itu. Lalu dengan hati-hati, kutuliskan kalimat demi kalimat dengan tinta emas didalamnya.
            “Mey yang baik, kita telah berteman di Sekolah ini. Kitapun selalu bahu-membahu menyelesaikan tugas dari guru-guru kita. Tapi, jangalah kamu melupakan, imanku bukan kepercayaanmu, keyakinanmu pun bukan imanku. Tuhan mu adalah Bapak yang kamu sembah, dan Tuhan ku hanya Allah tempatku menghamba. Ku harap engkau mengerti, mengapa tiada ucapan selamat Natal di kartumu ini.” Aku tersenyum.
Esoknya harinya..
            “Mey !” teriaku tertahan melihat dia berdiri termangu di depan pintu ruang kelas dan menatapku aneh.
            “Apa maksudmu dengan kata-kata ini ?” sambil memberikan kartu yang aku kirim kemaren. Sesaat aku terpana.
            “Mey, untuk mulah agama mu, dan untukkulah agama ku.” Ujarku tegas setelah diam beberapa saat. Mey menatapku tak mengerti dan secepat kilat dia berbalik dan berjalan tergesa-gesa menjauhiku. Semoga engkau bisa memahaminya, Mey. Aku tertunduk. Allah, Engkaulah Yang Maha Tahu apa yang terbaik untukku.

Naskah Drama



Naskah Drama
Anggota :
1)      Agung Tri Sasongko (Agung)
2)      Brian M. Haera (Brian)
3)      Desi Ardila Sari (Desi)
4)      Fadilah Putri (Dila)
5)      Feri Kurniawan (Feri)
6)      Novi Putriana Dewi (Novi) 
 Pagi yang cerah. Siswa dan siswi di sebuah sekolah Menengah Atas terlihat memasuki kelas mereka masing-masing. Selesai berbaris dan berdoa di teras, siswa dan siswi tersebut diberi aba-aba untuk masuk ke dalam kelas karena akan mengikuti kegiatan seperti biasanya. Begitu juga dengan Agung, Dila, dan Novi. Mereka adalah tiga orang siswa pintar dan patuh terhadap aturan.
Pagi itu, di kelas Agung, Novi dan Dila tengah berlangsung pelajaran matematika.
Ibu Guru          : “Anak-anak, hari ini kita akan belajar tentang Limit Trigonometri. Semua harus mendengarkan dengan seksama, karena besok ibu akan mengadakan Tes Uji Kemampuan, jadi kalian harus...” (berhenti berbicara dan memandang ke pintu kelas). “Desi, Brian, Feri ! kenapa kalian terlambat lagi ? kemarin ibu sudah memperingatkan kalian, tapi ini masih saja terlambat. Sekarang, berdiri di depan kelas !”(menunjuk kedepan kelas)
Desi, Brian, Feri : (berjalan kedepan kelas dengan wajah tanpa dosa)
Desi, Brian, dan Feri adalah tiga orang siswa nakal yang selalu membuat masalah. Mereka selalu dicap sebagai siswa pelanggar aturan dan suka membuat resah seisi sekolah. Namun, siswa dan para guru tidak bisa berbuat apa-apa karena Desi, ketua dari anak-anak nakal tersebut adalah anak dari pemilik sekolah.
Pelajaran terus berlanjut. Ibu guru melihat ke arah Desi dan kawan-kawan nya. Karena dirasa cukup, ibu guru menyuruh mereka untuk kembali ke kursi mereka masing-masing.
Ibu Guru          : “Ibu rasa cukup. Sekarang kalian boleh kembali ke kursi kalian masing-masing.”
Desi, Brian, Feri : “Iya” (dengan nada kesal)
Desi                : (mengambil permen dari kantongnya dan duduk tidak sopan dikursinya)
Ibu Guru          : “Desi !! kamu tidak tahu belajar dengan siapa ? (mendekat dengan marah). Sudah terlambat, lalu duduk tidak sopan di mata pelajaran saya. Sekarang keluar !! (menunjuk kepintu)
Desi     : (berdiri dan mengembrak meja). “Ibu tidak tahu siapa saya ? saya adalah anak pemilik sekolah ini”  (menunjuk pada ibu guru). “Kalau ibu berani memarahi saya seperti ini lagi, saya akan pastikan ibu tidak akan mengajar disini lagi !!. ayo guys.” (mengambil tas dan pergi dari kelas)
Pelajaran tetap berjalan seperti biasanya. Semua siswa mendengarkan pelajaran termasuk Agung, Dila dan Novi. Mereka terlihat antusias mendengar dan bertanya tenetang pelajaran hari itu.
Keesokan harinya...
Ibu Guru          : “Seperti yang sudah ibu sampaikan kemaren, kita akan laksanakan Tes Uji Kemampuan itu sekarang.”
Desi, Brian, Feri : (memasang wajah terkejut)
Brian                : “Hei, Fer kamu sudah belajar ?” (bertanya dengan suara pelan)
Feri                  : “Aku tidak tahu kalau hari ini ada tes.” (wajah mulai pucat) “Kamu, Des ? Tahu tidak kalau hari ini ada tes ?” (bertanya pelan)
Desi                 : “Kamu kan tahu kalau kemarin aku diusir” (cemas)
Feri                  : “Ha.. aku punya ide. Bagaimana kalau kita duduk dibelakang Three Culun Students disana.” (menunjuk kearah Agung, Dila dan Novi). “Kita pasti dapat nilai bagus kalau duduk dibelakang mereka.”
Desi                 : “Ide kamu cemerlang juga, Fer. Mana mungkin mereka akan menolak permintaan kita.” (berbicara dengan sombong)
Feri                  : “Kamu duduk dibelakang Agung, Des. Kalau aku dan Brian duduk dibelakang Dila dan Novi.” (berjalan mendekat ke kursi Agung, Dila dan Novi).
Brian                : “Fer, tukaran yuk. Aku dibelakang Dila saja ya” (berhenti melangkah dan memohon pada Feri). Kamu kan tahu sendiri kalau Novi sedikit galak.”
Feri                  : “Iya.. iya” (berjalan mendekati meja Novi)
Novi                : (memasang wajah bingung)
Feri                  : “Hai Novi. Boleh kan kalau aku duduk disini ?” (berbicara dengan nada lemah)
Novi                : “Ada angin apa kamu duduk disini ?. bukannya kamu selalu duduk bersama dengan kelompok mu?” (dengan tampang sinis)
Feri                  : “Hmm... kamu tahu kan kalau hari ini ada tes... pasti kamu sudah belajar kan ?”
Novi                : (memasang wajah kesal). Jangan harap aku akan membantu kamu !”
Feri                  : “Please... nanti kasih contekan pada ku ya.”
Novi                : Jangan harap !!“
Tes Uji Kemampuan pun dimulai. Ketiga anak nakal itu pun mulai resah. Dengan berbagai cara mereka pun mencoba meminta contekan.
Brian                : (menendang lemah kursi Dila). “Dila. Dila!! Soal no 1 bagaimana caranya ?”
Dila                  : (melirik kebelakang). “Kamu belum menyelesaikan soal satupun ?”
Brian                : “Ha ? kok kamu tahu ?” (dengan wajah heran)
Dila                  : “Tentu saja aku tahu. Tuh, lihat, kertas kamu masih bersih. Coretan pulpen kamu saja tidak ada disana” (menunjuk kertas Brian)
Brian                : (melihat ke kertasnya dan mencibir pada Dila). “Kalau tidak mau membantu, bilang saja !” (memasang wajah kesal dan pura-pura menjawab soal)
Tes Uji Kemampuan pun selesai. Siswa dan siswi segera bergegas keluar kelas. Begitu juga dengan ketiga anak nakal tersebut. Mereka segera pergi ke kantin sekolah.
Desi                 : “Heh, Brian ! tadi tes kamu bagaimana ? “
Brian                : “Aku tidak menjawab satu soal pun” (dengan wajah lesu)
Desi                 : “Ha..Ha kamu kurang cekatan sih ! tadi waktu tes, aku mengintip jawaban Agung dari belakang, tapi ...”
Feri                  : “Tapi apa ?”
Desi                 : “Tapi hanya no 1 saja” (dengan wajah malu). “Lihat saja, nanti pulang sekolah, kita kerjai mereka.”
Feri                  : “Aku setuju”
Pada saat perjalanan pulang, ketiga anak nakal tersebut membuat jebakan untuk Agung, Dila dan Novi sebagai pembalasan karena pada saat tes mereka tidak mendapat contekan dari Agung, Dila dan Novi. Desi dan kedua temannya bersembunyi di balik semak-semak. Pada waktu yang sama, Agung, Dila dan Novi berjalan bersamaan. Perjalanan mereka dipimpin oleh agung sebagai seorang laki-laki.
Desi                 : “Mereka datang. “ (bersembunyi dibalik semak-semak)
Brian                : “Pada saat hitungan ketiga, kamu tarik talinya ya Fer.”
Feri                  : “Sip.” (mengacungkan jempol)
Brian                : “Satu.. Dua.. Tiga” (menarik tali bersamaan dengan Feri)
Agung              : (terjatuh) “Aduh..”
Dila dan Novi : “Agung !!” (membantu Agung bangun)
Feri                  : “Ha..ha.. memang enak.” (berdiri dan tertawa)
Brian                : “Itu balasan bagi kalian yang pelit sama kami.” (ikut tertawa)
Dila                  : “Kalian apa-apaan sih ?. bukan salah kami kalau kalian tidak bisa menjawab soal tes tadi.” (berdiri disamping Agung)
Desi                 : “Apa ? tentu salah kalian lah. Gara-gara kalian pelit, kami tidak bisa menjawab soal tes tadi.” (keluar dari semak-semak) 
Agung              : “Itu kan hanya Tes Uji Kemampuan. Kenapa kalian sampai mengerjai kami ?. kalau kalian mau, kenapa tidak belajar bersama kami, kami pasti dengan senang hati membantu kalian.”
Feri                  :”Apa ? belajar dari kalian ?” (dengan wajah terkejut)
Brian                : “Kami tidak mungkin menerima transfer ilmu dari kalian, anak culun.” 
Novi                :  “Apa ? anak culun ?.” (melangkah menghampiri Brian)
Desi                 :  “Jangan ganggu teman-temanku kalau kamu tidak mau pulang dengan wajah penuh             luka.” (berdiri disamping Brian)
Novi                : “Aku sudah terlalu sabar dengan kelakuan kalian disekolah. Sekarang kalian mau mengancam kami ?” (dengan marah)
Feri                  : “Bukan kami mengancam kalian, tapi hanya kembali mengingatkan.” (mendekati Novi)
Agung              : “Mengingatkan soal apa ?” (berbicara sambil meringis)
Desi                 : “Kalau aku punya kekuasaan penuh terhadap beasiswa kalian.”
Agung              : (terdiam dan melangkah mendekati Novi) “Sudahlah, Vi. Lebih baik kita mengalah saja.”
Dila                  : “Iya. Ngapain kita menghabiskan tenaga untuk melawan mereka.” (ikut medekati Novi)
Novi                : (mendekati Desi) “Kalau bukan karena hasutan teman-temanku, mungkin kamu tidak akan aku ampuni.”
Brian                : “Kami tidak takut.” (medekati Novi)
Dila                  : “Ayolah, Vi. Kita pergi sekarang. Kita harus mengobati Agung.” (menarik tangan Novi)
Agung dan kedua temannya segera membawanya pulang. Sedangkan Desi dan kedua teman nakalnya tertawa bahagia karena jebakan mereka berhasil.
Esok pun datang. Desi hanya berjalan sendiri sambil menendang kerikil kecil di halaman sekolah. Hari ini kedua temannya, Feri dan Brian tidak sekolah karena ada kegiatan lain yang membuat mereka libur hari ini.
Desi : “Dasar teman tidak setia. Dengan rasa tanpa dosa mereka libur hari ini tanpa mengingatku sedikitpun.” (berbicara sendiri)
Karena tidak melihat sekitar, Desi tidak menyadari ada sebuah kayu dihadapannya. Tiba-tiba...
Desi                 : (terjatuh dan memegang kepala) “Aduh, kepalaku.”
Tidak jauh dari sana, Agung yang tengah berjalan pelan segera berlari melihat Desi terjatuh dan tak sadarkan diri.
Desi                 : “Desi kamu kenapa ?.” (mengguncang tubuh Desi yang tidak sadarkan diri). “Darah di kepalamu tidak mau berhenti, Des. Maaf, aku tidak bermaksud menyentuh mu seenaknya, tapi ini darurat.” (memapah Desi yang penuh darah ke sebuah bangku taman di sekolah.)
Agung segera mengobati luka Desi tanpa mengingat kejadian kemarin yang menimpa dirinya. Dengan sabar Agung menunggu Desi hingga sadar.
Desi                 : “Aku dimana ?.” (terbangun dan terkejut melihat Agung). “Hei anak culun, ngapain kamu disini ?.”
Agung              : “Tadi aku melihat mu terjatuh dan tidak sadarkan diri. Jadi, aku membawa kamu kesini dan segera mengobati lukamu.” (menunjuk kening Desi).
Desi                 : (menunduk). “Kenapa kamu baik sekali pada ku ? padahal kemarin aku membuat mu terjatuh.”
Agung              : (tersenyum). “Tidak apa-apa. Kamu lihat sendiri kan, aku sehat-sehat saja.”
Desi                 : (ikut tersenyum). “Maafin aku ya Agung. Aku banyak salah sama kamu juga Novi dan Dila.”
Agung              : “Iya.” (tersenyum)
            Kejadian itu membuat Desi berubah. Dia mulai mengerti dan perlahan merubah sikapnya. Keesokan harinya...
Feri                  : “Maaf ya, Des, kemarin kami tidak menemanimu disekolah.” (menepuk pundak Desi)
Brian                : “Iya. Pasti kamu kemarin hanya berdiam diri di kelas seperti Three Culun students.” (tertawa)
Feri                  : “Aku baru sadar, kening mu kenapa, Des ?.” (melihat kening Desi)
Desi                 : “Kemarin aku terjatuh, lalu kening ku terbentur sesuatu. (hanya menunduk)
Brian                : “Syukurlah kamu baik-baik saja.”
Feri                  : “Hei Brian, coba lihat. Agung, Dila dan Novi kesini tuh. Kita kerjai lagi yuk !.”
Brian                : “Ayo.” (berjalan mendekati Agung, Dila, dan Novi)
Brian                : “Hei anak culun. Kalau mau lewat sini, kalian harus membayar pajak jalan.” (menghalangi agung, Dila dan Novi)
Dila                  : “Pajak jalan ? ini kan tempat umum. Semua orang berhak lewat sini.”
Novi                : “Kalian lagi. Dimana ketua kalian?. Kenapa kalian hanya berdua.” (mendekati Feri dan Brian)
Agung              : “Apa Desi hari ini tidak sekolah ?.” (bicara pelan) “Pasti lukanya yang kemarin membuat dia libur hari ini.”
Brian                : “Jadi kalian yang membuat Desi terluka.” (berbicara dengan nada tinggi)
Dila                  : “Bukan. Justru Agung yang menyelamatkan Desi.”
Novi                : “Untung saja yang menemukan Ketua mu itu Agung. Kalau aku, pasti dengan santai, akan kubiarkan dia tergeletak di  tanah.” (tersenyum sinis)
Feri                  : “Awas kalian.” (mengepal tangan)
Desi                 : (mendekati Feri dan Brian). “Itu benar guys. Agung yang telah menolongku. Mungkin kalau Agung tidak menemukanku dan segera mengobati luka ku, pasti aku tidak akan ada disini.”
Feri                  : (menunduk). “Maafkan aku Agung, Novi, Dila.” 
Brian                : “Aku juga. Terima kasih sudah menolong teman kami.”
Dila                  : “Kami sudah memaafkan kalian.”
Agung              : “Kalian sudah kami anggap sebagai sahabat kami. Bukan begitu Novi ?”. (melihat Novi)
Novi                : (menarik nafas). “Iya. Kalian sudah kami maafkan.” (tersenyum)

Semenjak hari itu, Desi, Brian dan Feri berteman dengan Agung, Dila dan Novi. Mereka bersama-sama belajar dan tolong-menolong dalam setiap keadaan. Desi, Brian dan Feri juga telah berjanji tidak akan membuat keributan dan akan menjadi siswa dan siswi teladan seperti Agung, Dila dan Novi.