Selasa, 06 Mei 2014

Naskah Drama



Naskah Drama
Anggota :
1)      Agung Tri Sasongko (Agung)
2)      Brian M. Haera (Brian)
3)      Desi Ardila Sari (Desi)
4)      Fadilah Putri (Dila)
5)      Feri Kurniawan (Feri)
6)      Novi Putriana Dewi (Novi) 
 Pagi yang cerah. Siswa dan siswi di sebuah sekolah Menengah Atas terlihat memasuki kelas mereka masing-masing. Selesai berbaris dan berdoa di teras, siswa dan siswi tersebut diberi aba-aba untuk masuk ke dalam kelas karena akan mengikuti kegiatan seperti biasanya. Begitu juga dengan Agung, Dila, dan Novi. Mereka adalah tiga orang siswa pintar dan patuh terhadap aturan.
Pagi itu, di kelas Agung, Novi dan Dila tengah berlangsung pelajaran matematika.
Ibu Guru          : “Anak-anak, hari ini kita akan belajar tentang Limit Trigonometri. Semua harus mendengarkan dengan seksama, karena besok ibu akan mengadakan Tes Uji Kemampuan, jadi kalian harus...” (berhenti berbicara dan memandang ke pintu kelas). “Desi, Brian, Feri ! kenapa kalian terlambat lagi ? kemarin ibu sudah memperingatkan kalian, tapi ini masih saja terlambat. Sekarang, berdiri di depan kelas !”(menunjuk kedepan kelas)
Desi, Brian, Feri : (berjalan kedepan kelas dengan wajah tanpa dosa)
Desi, Brian, dan Feri adalah tiga orang siswa nakal yang selalu membuat masalah. Mereka selalu dicap sebagai siswa pelanggar aturan dan suka membuat resah seisi sekolah. Namun, siswa dan para guru tidak bisa berbuat apa-apa karena Desi, ketua dari anak-anak nakal tersebut adalah anak dari pemilik sekolah.
Pelajaran terus berlanjut. Ibu guru melihat ke arah Desi dan kawan-kawan nya. Karena dirasa cukup, ibu guru menyuruh mereka untuk kembali ke kursi mereka masing-masing.
Ibu Guru          : “Ibu rasa cukup. Sekarang kalian boleh kembali ke kursi kalian masing-masing.”
Desi, Brian, Feri : “Iya” (dengan nada kesal)
Desi                : (mengambil permen dari kantongnya dan duduk tidak sopan dikursinya)
Ibu Guru          : “Desi !! kamu tidak tahu belajar dengan siapa ? (mendekat dengan marah). Sudah terlambat, lalu duduk tidak sopan di mata pelajaran saya. Sekarang keluar !! (menunjuk kepintu)
Desi     : (berdiri dan mengembrak meja). “Ibu tidak tahu siapa saya ? saya adalah anak pemilik sekolah ini”  (menunjuk pada ibu guru). “Kalau ibu berani memarahi saya seperti ini lagi, saya akan pastikan ibu tidak akan mengajar disini lagi !!. ayo guys.” (mengambil tas dan pergi dari kelas)
Pelajaran tetap berjalan seperti biasanya. Semua siswa mendengarkan pelajaran termasuk Agung, Dila dan Novi. Mereka terlihat antusias mendengar dan bertanya tenetang pelajaran hari itu.
Keesokan harinya...
Ibu Guru          : “Seperti yang sudah ibu sampaikan kemaren, kita akan laksanakan Tes Uji Kemampuan itu sekarang.”
Desi, Brian, Feri : (memasang wajah terkejut)
Brian                : “Hei, Fer kamu sudah belajar ?” (bertanya dengan suara pelan)
Feri                  : “Aku tidak tahu kalau hari ini ada tes.” (wajah mulai pucat) “Kamu, Des ? Tahu tidak kalau hari ini ada tes ?” (bertanya pelan)
Desi                 : “Kamu kan tahu kalau kemarin aku diusir” (cemas)
Feri                  : “Ha.. aku punya ide. Bagaimana kalau kita duduk dibelakang Three Culun Students disana.” (menunjuk kearah Agung, Dila dan Novi). “Kita pasti dapat nilai bagus kalau duduk dibelakang mereka.”
Desi                 : “Ide kamu cemerlang juga, Fer. Mana mungkin mereka akan menolak permintaan kita.” (berbicara dengan sombong)
Feri                  : “Kamu duduk dibelakang Agung, Des. Kalau aku dan Brian duduk dibelakang Dila dan Novi.” (berjalan mendekat ke kursi Agung, Dila dan Novi).
Brian                : “Fer, tukaran yuk. Aku dibelakang Dila saja ya” (berhenti melangkah dan memohon pada Feri). Kamu kan tahu sendiri kalau Novi sedikit galak.”
Feri                  : “Iya.. iya” (berjalan mendekati meja Novi)
Novi                : (memasang wajah bingung)
Feri                  : “Hai Novi. Boleh kan kalau aku duduk disini ?” (berbicara dengan nada lemah)
Novi                : “Ada angin apa kamu duduk disini ?. bukannya kamu selalu duduk bersama dengan kelompok mu?” (dengan tampang sinis)
Feri                  : “Hmm... kamu tahu kan kalau hari ini ada tes... pasti kamu sudah belajar kan ?”
Novi                : (memasang wajah kesal). Jangan harap aku akan membantu kamu !”
Feri                  : “Please... nanti kasih contekan pada ku ya.”
Novi                : Jangan harap !!“
Tes Uji Kemampuan pun dimulai. Ketiga anak nakal itu pun mulai resah. Dengan berbagai cara mereka pun mencoba meminta contekan.
Brian                : (menendang lemah kursi Dila). “Dila. Dila!! Soal no 1 bagaimana caranya ?”
Dila                  : (melirik kebelakang). “Kamu belum menyelesaikan soal satupun ?”
Brian                : “Ha ? kok kamu tahu ?” (dengan wajah heran)
Dila                  : “Tentu saja aku tahu. Tuh, lihat, kertas kamu masih bersih. Coretan pulpen kamu saja tidak ada disana” (menunjuk kertas Brian)
Brian                : (melihat ke kertasnya dan mencibir pada Dila). “Kalau tidak mau membantu, bilang saja !” (memasang wajah kesal dan pura-pura menjawab soal)
Tes Uji Kemampuan pun selesai. Siswa dan siswi segera bergegas keluar kelas. Begitu juga dengan ketiga anak nakal tersebut. Mereka segera pergi ke kantin sekolah.
Desi                 : “Heh, Brian ! tadi tes kamu bagaimana ? “
Brian                : “Aku tidak menjawab satu soal pun” (dengan wajah lesu)
Desi                 : “Ha..Ha kamu kurang cekatan sih ! tadi waktu tes, aku mengintip jawaban Agung dari belakang, tapi ...”
Feri                  : “Tapi apa ?”
Desi                 : “Tapi hanya no 1 saja” (dengan wajah malu). “Lihat saja, nanti pulang sekolah, kita kerjai mereka.”
Feri                  : “Aku setuju”
Pada saat perjalanan pulang, ketiga anak nakal tersebut membuat jebakan untuk Agung, Dila dan Novi sebagai pembalasan karena pada saat tes mereka tidak mendapat contekan dari Agung, Dila dan Novi. Desi dan kedua temannya bersembunyi di balik semak-semak. Pada waktu yang sama, Agung, Dila dan Novi berjalan bersamaan. Perjalanan mereka dipimpin oleh agung sebagai seorang laki-laki.
Desi                 : “Mereka datang. “ (bersembunyi dibalik semak-semak)
Brian                : “Pada saat hitungan ketiga, kamu tarik talinya ya Fer.”
Feri                  : “Sip.” (mengacungkan jempol)
Brian                : “Satu.. Dua.. Tiga” (menarik tali bersamaan dengan Feri)
Agung              : (terjatuh) “Aduh..”
Dila dan Novi : “Agung !!” (membantu Agung bangun)
Feri                  : “Ha..ha.. memang enak.” (berdiri dan tertawa)
Brian                : “Itu balasan bagi kalian yang pelit sama kami.” (ikut tertawa)
Dila                  : “Kalian apa-apaan sih ?. bukan salah kami kalau kalian tidak bisa menjawab soal tes tadi.” (berdiri disamping Agung)
Desi                 : “Apa ? tentu salah kalian lah. Gara-gara kalian pelit, kami tidak bisa menjawab soal tes tadi.” (keluar dari semak-semak) 
Agung              : “Itu kan hanya Tes Uji Kemampuan. Kenapa kalian sampai mengerjai kami ?. kalau kalian mau, kenapa tidak belajar bersama kami, kami pasti dengan senang hati membantu kalian.”
Feri                  :”Apa ? belajar dari kalian ?” (dengan wajah terkejut)
Brian                : “Kami tidak mungkin menerima transfer ilmu dari kalian, anak culun.” 
Novi                :  “Apa ? anak culun ?.” (melangkah menghampiri Brian)
Desi                 :  “Jangan ganggu teman-temanku kalau kamu tidak mau pulang dengan wajah penuh             luka.” (berdiri disamping Brian)
Novi                : “Aku sudah terlalu sabar dengan kelakuan kalian disekolah. Sekarang kalian mau mengancam kami ?” (dengan marah)
Feri                  : “Bukan kami mengancam kalian, tapi hanya kembali mengingatkan.” (mendekati Novi)
Agung              : “Mengingatkan soal apa ?” (berbicara sambil meringis)
Desi                 : “Kalau aku punya kekuasaan penuh terhadap beasiswa kalian.”
Agung              : (terdiam dan melangkah mendekati Novi) “Sudahlah, Vi. Lebih baik kita mengalah saja.”
Dila                  : “Iya. Ngapain kita menghabiskan tenaga untuk melawan mereka.” (ikut medekati Novi)
Novi                : (mendekati Desi) “Kalau bukan karena hasutan teman-temanku, mungkin kamu tidak akan aku ampuni.”
Brian                : “Kami tidak takut.” (medekati Novi)
Dila                  : “Ayolah, Vi. Kita pergi sekarang. Kita harus mengobati Agung.” (menarik tangan Novi)
Agung dan kedua temannya segera membawanya pulang. Sedangkan Desi dan kedua teman nakalnya tertawa bahagia karena jebakan mereka berhasil.
Esok pun datang. Desi hanya berjalan sendiri sambil menendang kerikil kecil di halaman sekolah. Hari ini kedua temannya, Feri dan Brian tidak sekolah karena ada kegiatan lain yang membuat mereka libur hari ini.
Desi : “Dasar teman tidak setia. Dengan rasa tanpa dosa mereka libur hari ini tanpa mengingatku sedikitpun.” (berbicara sendiri)
Karena tidak melihat sekitar, Desi tidak menyadari ada sebuah kayu dihadapannya. Tiba-tiba...
Desi                 : (terjatuh dan memegang kepala) “Aduh, kepalaku.”
Tidak jauh dari sana, Agung yang tengah berjalan pelan segera berlari melihat Desi terjatuh dan tak sadarkan diri.
Desi                 : “Desi kamu kenapa ?.” (mengguncang tubuh Desi yang tidak sadarkan diri). “Darah di kepalamu tidak mau berhenti, Des. Maaf, aku tidak bermaksud menyentuh mu seenaknya, tapi ini darurat.” (memapah Desi yang penuh darah ke sebuah bangku taman di sekolah.)
Agung segera mengobati luka Desi tanpa mengingat kejadian kemarin yang menimpa dirinya. Dengan sabar Agung menunggu Desi hingga sadar.
Desi                 : “Aku dimana ?.” (terbangun dan terkejut melihat Agung). “Hei anak culun, ngapain kamu disini ?.”
Agung              : “Tadi aku melihat mu terjatuh dan tidak sadarkan diri. Jadi, aku membawa kamu kesini dan segera mengobati lukamu.” (menunjuk kening Desi).
Desi                 : (menunduk). “Kenapa kamu baik sekali pada ku ? padahal kemarin aku membuat mu terjatuh.”
Agung              : (tersenyum). “Tidak apa-apa. Kamu lihat sendiri kan, aku sehat-sehat saja.”
Desi                 : (ikut tersenyum). “Maafin aku ya Agung. Aku banyak salah sama kamu juga Novi dan Dila.”
Agung              : “Iya.” (tersenyum)
            Kejadian itu membuat Desi berubah. Dia mulai mengerti dan perlahan merubah sikapnya. Keesokan harinya...
Feri                  : “Maaf ya, Des, kemarin kami tidak menemanimu disekolah.” (menepuk pundak Desi)
Brian                : “Iya. Pasti kamu kemarin hanya berdiam diri di kelas seperti Three Culun students.” (tertawa)
Feri                  : “Aku baru sadar, kening mu kenapa, Des ?.” (melihat kening Desi)
Desi                 : “Kemarin aku terjatuh, lalu kening ku terbentur sesuatu. (hanya menunduk)
Brian                : “Syukurlah kamu baik-baik saja.”
Feri                  : “Hei Brian, coba lihat. Agung, Dila dan Novi kesini tuh. Kita kerjai lagi yuk !.”
Brian                : “Ayo.” (berjalan mendekati Agung, Dila, dan Novi)
Brian                : “Hei anak culun. Kalau mau lewat sini, kalian harus membayar pajak jalan.” (menghalangi agung, Dila dan Novi)
Dila                  : “Pajak jalan ? ini kan tempat umum. Semua orang berhak lewat sini.”
Novi                : “Kalian lagi. Dimana ketua kalian?. Kenapa kalian hanya berdua.” (mendekati Feri dan Brian)
Agung              : “Apa Desi hari ini tidak sekolah ?.” (bicara pelan) “Pasti lukanya yang kemarin membuat dia libur hari ini.”
Brian                : “Jadi kalian yang membuat Desi terluka.” (berbicara dengan nada tinggi)
Dila                  : “Bukan. Justru Agung yang menyelamatkan Desi.”
Novi                : “Untung saja yang menemukan Ketua mu itu Agung. Kalau aku, pasti dengan santai, akan kubiarkan dia tergeletak di  tanah.” (tersenyum sinis)
Feri                  : “Awas kalian.” (mengepal tangan)
Desi                 : (mendekati Feri dan Brian). “Itu benar guys. Agung yang telah menolongku. Mungkin kalau Agung tidak menemukanku dan segera mengobati luka ku, pasti aku tidak akan ada disini.”
Feri                  : (menunduk). “Maafkan aku Agung, Novi, Dila.” 
Brian                : “Aku juga. Terima kasih sudah menolong teman kami.”
Dila                  : “Kami sudah memaafkan kalian.”
Agung              : “Kalian sudah kami anggap sebagai sahabat kami. Bukan begitu Novi ?”. (melihat Novi)
Novi                : (menarik nafas). “Iya. Kalian sudah kami maafkan.” (tersenyum)

Semenjak hari itu, Desi, Brian dan Feri berteman dengan Agung, Dila dan Novi. Mereka bersama-sama belajar dan tolong-menolong dalam setiap keadaan. Desi, Brian dan Feri juga telah berjanji tidak akan membuat keributan dan akan menjadi siswa dan siswi teladan seperti Agung, Dila dan Novi.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar