YANG KU TAHU TUHAN KITA TAK PERNAH TIDUR PART.II
Cerpen Karya Nurasiyah
Kutub utara dan selatan seakan bertukar, aku tak kuasa menahan buliran
air mata yang dari tadi ingin kutumpahkan, aku memeluknya diatas ranjang
pasien. Ku teteskan air mataku tepat di dadanya,berharap ia merasakan
keinginanku juga sama dengannya.
“kami mengijinkanmu, Angki.
Rasakanlah bahagiamu sebelum itu tak bisa kau rasakan lagi.” Jawab orang
tua Angki dari balik pintu masuk ruangan.
“tidak Bu, aku tahu ini menyalahi aturan Tuhan.” Angki menjawab.
“ tapi apakah Tuhan tak menginginkan bahagia untuk setiap pengikutnya?”
Aku
tahu orang tua Angki berkata seperti itu karena umur angki terbatas
lagi, aku tahu hasil diagnosa dokter itu, dia memvonis Angki menderita
kanker Tulang. Pantas saja dari dulu ia selalu mengeluh ngilu disekujur
tubuhnya. Semuanya terjawab.
“aku permisi pulang” aku mengarah ke arah pintu keluar.
“kau mau kemana nak, tak maukah kau menemani Angki malam ini?”
“tapi…”
“sudahlah, tetap disini. Kami pamit pulang dulu” mereka beranjak pergi.
Entah
apa yang kurasakan, apakah aku bahagia atau merasa sedih dengan situasi
ini. Aku telah mendapat restu. Tuhan, jika aku engkau takdirkan dengan
Angki, ku mohon dengan segala kuatku, bahagiakan kami dengan segala
waktu yang tersisa.
“sini sayang” Angki memanggilku.
Dia memanggilku sayang, untuk pertama dan kuharap ini bukan terakhir kalinya dia menyapaku dengan panggilan mesra itu.
“malam
yang indah, ku harap malam ini menjadi saksi bisu kebahagiaanku.
Sayang, kau tahu Tuhanku berbisik padaku jika malam ini akan menjadi
malam yang menyatukan kita berdua. Mohon bawa aku ke taman dekat tempat
beribadah kita berdua.
“aku menolaknya” jawabku dengan tegas.
“ini terakhir kalinya” jawabnya
Mendengar
perkataan itu sontak membuat aku untuk mengaminkan permintaan dari
Angki. Malam itu ku bawa dia kesana tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya.
Aku takut dosa, namun entah mengapa aku lebih takut kehilangannya, aku
tahu ini salah, bahkan sangat salah.
“aku ingin menghabiskan malam
ini disini, bersama genggaman tangan yang selalu memberiku kehidupan
setiap kali aku berada di dekatnya , itu kamu” dia menunjuk ke arahku.
Aku
selalu tersenyum, bahkan sesekali menyandarkan kepalaku di pundaknya,
aku tahu pundaknya tak sekuat dulu. Aku ingin selalu seperti ini, dua
bulan yang lalu, waktu kebersamaan kami seakan terbuang percuma dan saat
ini Angki membayarnya.
“terima kasih, Angki” kataku
“untuk apa?”
“untuk
semua keindahan cinta yang selalu kau suguhkan hingga malam ini, terima
kasih untuk semua cinta dan pengorbanan yang selalu kau lakukan, aku
ingin sekali meminta kepada Tuhanmu agar aku dan kamu dapat Dia restui”
‘‘tenanglah
sayang, kau tahu, Tuhan kita sedang rapat besar-besaran bersama
malaikat dan yang lainnya untuk membicarakan nasib kita berdua. Lihatlah
betapa istimewanya cinta kita” dia mencoba menenangkanku dalam
dekapnya.
“semoga saja” jawabku.
Aku bersandar agak lama, aku
tak merasakan detak jantung Angki lagi. Entah siapa yang mencurinya. Ku
coba membangunkannya namun tak ada perlawanan dalam dirinya. Dengan
sekuat tenaga kubawa Angki ke rumah sakit, lagi dan lagi dokter itu yang
memeriksanya. Aku menunggu di ruang tunggu diantara orang yang
lalulalang mencari ruangan sanak saudaranya yang sakit.
“ apa yang terjadi” Tanya orang tua Angki.
“Angki tak sadarkan diri, di taman tante.”
‘‘kau membawanya keluar tanpa izin kami?”
“ tapi itu permintaan Angki, tan !”
“dasar bodoh, kau tahu Angki tak boleh kena angin malam, itu berpengaruh pada kesehatannya”
Aku
terdiam, aku seperti dihakimi karena kasus berat, seakan aku melakukan
percobaan pembunuhan pada kekasihku sendiri. Dokter keluar dari ruangan,
seakan menjelma menjadi malaikat pencabut nyawa. “Angki sudah pergi”
katanya.
Orang tua Angki melangkah masuk ruangan, sementara aku
tak ada yang mempedulikan. Aku hanya menangis terisak di atas kursi
tunggu. Tak ada yang bisa ku lakukan, bahkan saat jasad Angki tak bisa
ku sentuh lagi, orang tuanya melarangku, mereka menerka bahwa aku
penyebabnya.
Malam yang mencekam, jariku tak dapat menyentuhmu lagi
malam itu, Angki. Bahkan untuk mengucapkan selamat tinggal itu tak dapat
tersampaikan lagi.
angki, selamat jalan sayang :)
Pagi yang
mendung, aku merasa alam juga bersedih karena kau tinggalkan. Angki aku
ingin menyampaikan rasa belasungkawa Tuhanku padamu. Ku ikuti rombongan
pelayatmu menuju singgasana terakhir, tempatmu tertidur hingga surga
untukmu selesai dibangun. Aku menunggu hingga semuanya sepi, hanya ada
fotomu di atas pusara.
Aku tahu jiwamu telah tenang, namun aku merasa kau selalu mengikutiku kemana pun langkahku beranjak. Angki ,
“kekasihku
tenanglah disana, maafkan aku tak bisa menciptakan malam yang indah
untukmu” jawabku seraya menciumi pusaranya. Sayang, aku titipkan surat
untukmu semoga angin senantiasa menyampaikannya padamu ketika kau telah
berada di surga.
Teruntuk kekasihku, Angki.
sosok yang paling kusayangi, semoga kau membacanya dengan senyum di surga.
Kekasihku
yang terhebat, terima kasih untuk tiga setengah tahun ini. Terima kasih
telah mengajariku bahagia di atas perbedaan yang ada. Ketika kau baca
surat ini, ku yakin kau telah duduk manis di surga yang Tuhanmu selalu
janjikan. Kekasihku yang kucintai, maaf aku tak bisa mengantarmu ke
pusara terakhirmu, itu karena orang tuamu mengira aku penyebab kau
menghadap Tuhanmu secepat ini. Kekasihku, aku tahu saat dalam peti kau
merasa sangat sempit, kau yang selalu mengajariku bahwa dunia sangatlah
luas, mungkin kini teorimu itu telah berubah. Ku harap kau tak tersiksa
di dalam peti itu, untunglah kau agak kurus jadi kau agak leluasa di
dalamnya, sayang.
Kekasihku yang berbaik, aku berharap Tuhanmu dan
Tuhanku sedang bekerja sama menjadi arsitek untuk menciptakan surga
untuk kita dapat menyatu nanti, walau aku masih bertanya, akankah
Tuhanmu dan Tuhanku menjanjikan surga yang sama untuk kita?. Sayangku,
sampai saat ini aku masih belum percaya akan kepergianmu, aku begitu
berat melepasmu saat ini. Bahkan aku butuh waktu seumur hidup untuk
melupakanmu.
Kekasih, kau tahu..semenjak kepergianmu, aku sudah tak
takut mati, karena aku tahu kau sedang menungguku di surga itu. Aku tak
ingin membenci dunia dan isinya, karena tak pernah mengizinkan orang
yang melipat tangan dan menadahkan tangan saat berdoa menyatu dalam
ikatan cinta yang suci.
Sayangku, kau perlu tahu, sejauh apapun surga
dan dunia itu, aku tak pernah peduli. Aku selalu menjagamu dari jauh,
mengirimkan setiap kata sayang bersama angin dan ku harap semoga angin
itu menyampaikannya.
Tenanglah sayangku, kekasihku, aku selalu
mencintaimu hingga bumi tak bermentari lagi, hingga malam tak berbintang
lagi, atau bahkan ketika aku telah dimiliki orang lain, aku akan selalu
menyimpan rasa cintaku padamu di sudut hatiku, lalu akan ku kunci agar
tak ada yang bisa mengganggumu.
Surat dari kota cinta, aku dan
bersama kenangan kita. Hati-hati dalam perjalananmu menuju surga, kelak
jika kau telah sampai, Tuhanmu akan memberikan surat cinta ini. Aku
mencintaimu sayangku.
Dari yang terkasih dan selalu mencinta, Aku.
Tuhanku
Yang Maha Pencipta cinta, mohon bujuk Tuhannya agar Cinta kami bisa
menyatu, walau engkau tak izinkan raga kami untuk bersatu, aku mohon !
kekasih, senyummu akan terus terbayang,
dari wanita yang selalu menadahkan tangannya
berdoa agar kau cepat sampai di surga kita, aku !