Selasa, 06 Mei 2014

Cerpen : Ini Jalan ku, Mey !!




Ini Jalanku, Mey!

            Desember baru saja lewat. Lega rasanya melewati hari-hari sulit dibulan ini. Desember yang membuat hatiku resah, bingung, dan bimbang. Desember yang nyaris mengotori iman. Desember yang mehadirkan wajah memelas milik Mey, sahabatku.
            Please, Arif, sekali ini saja. Kirimi aku sebuah kartu Natal yang spesial. Kamu selalu oke kalau bikin kartu semacam itu.” Aku terdiam, bingung harus ngomong apa ke Mey. Gadis itu cemberut memandangku.
            “Waktu lebaran kemaren, aku kan ngirim kartu juga ke kamu. Lupa ya, Arif ? Ayolah, masa kamu tega menolak permintaan seorang teman yang semanis aku.” Rayunya membuatku semakin bingung. Ya, hampir dua tahun ini aku berteman dengan Mey, hanya teman biasa. Tak mungkin aku pura-pura lupa bahwa dialah yang banyak membantuku sejak pertama kali bersekolah disini. Dia yang pertama kali menyapa dan berkenalan dengan ku, juga selalu ada disaat aku butuh teman sebagai tempat bertanya ku. Mey gadis yang manis, baik, lepas dari dia seorang Nasrani. Dan Natal tahun lalu aku berhasil menyiasatinya agar tak perlu mengucapkan selamat Natal padanya, tapi tahun ini ?
            “Mau kan, Arif ?” Kali ini Mey menggenggam tangan ku.  Aku mencoba melepaskan, tapi kembali tangannya menggenggam tanganku.
            “Besar sekali arti sebuah kartu untukmu ?” tanya ku hati-hati, merasa tak enak hanya mendiamkan nya. Mey tersenyum.
            “Tentu, teman. Itu menunjukan betapa pedulinya kamu padaku. Jangan lupa, aku akan menunggunya.” Ucapnya. Aku kembali terdiam dan memandanginya yang berjalan menghampiri teman-temannya.
            Kuhempaskan nafas kuat-kuat. Ya Allah, sampai rasanya putus lengan dan kakiku bolak-balik naik turun tangga dari lantai dasar sampai lantai teratas sebuah Mall hanya untuk mencaikan kartu yang cocok untuk Mey. Sia-sia, tak ada kartu yang sesuai dengan keinginanku.  Aku melupakan sesuatu, Mey menyuruh ku untuk membuat sendiri kartu itu. Dengan ringan, kembali aku naik ke lantai teraras Mall tersebut. Aku akan membuatkan kartu spesial untuk Mey.
            Sekilas dapat kucium wangi kartu merah hati berbentuk bulan sabit dan bintang ditengahnya itu. Lalu dengan hati-hati, kutuliskan kalimat demi kalimat dengan tinta emas didalamnya.
            “Mey yang baik, kita telah berteman di Sekolah ini. Kitapun selalu bahu-membahu menyelesaikan tugas dari guru-guru kita. Tapi, jangalah kamu melupakan, imanku bukan kepercayaanmu, keyakinanmu pun bukan imanku. Tuhan mu adalah Bapak yang kamu sembah, dan Tuhan ku hanya Allah tempatku menghamba. Ku harap engkau mengerti, mengapa tiada ucapan selamat Natal di kartumu ini.” Aku tersenyum.
Esoknya harinya..
            “Mey !” teriaku tertahan melihat dia berdiri termangu di depan pintu ruang kelas dan menatapku aneh.
            “Apa maksudmu dengan kata-kata ini ?” sambil memberikan kartu yang aku kirim kemaren. Sesaat aku terpana.
            “Mey, untuk mulah agama mu, dan untukkulah agama ku.” Ujarku tegas setelah diam beberapa saat. Mey menatapku tak mengerti dan secepat kilat dia berbalik dan berjalan tergesa-gesa menjauhiku. Semoga engkau bisa memahaminya, Mey. Aku tertunduk. Allah, Engkaulah Yang Maha Tahu apa yang terbaik untukku.

2 komentar:

  1. lagu nya enak di dengerin :D

    BalasHapus
  2. lagu nya inggriss teruss :D
    tpi enak jga dengerin nya :) :)

    BalasHapus