Ini Jalanku,
Mey!
Desember
baru saja lewat. Lega rasanya melewati hari-hari sulit dibulan ini. Desember
yang membuat hatiku resah, bingung, dan bimbang. Desember yang nyaris mengotori
iman. Desember yang mehadirkan wajah memelas milik Mey, sahabatku.
“Please,
Arif, sekali ini saja. Kirimi aku sebuah kartu Natal yang spesial. Kamu selalu
oke kalau bikin kartu semacam itu.” Aku terdiam, bingung harus ngomong apa ke Mey. Gadis itu cemberut
memandangku.
“Waktu lebaran kemaren, aku kan
ngirim kartu juga ke kamu. Lupa ya, Arif ? Ayolah, masa kamu tega menolak
permintaan seorang teman yang semanis aku.” Rayunya membuatku semakin bingung.
Ya, hampir dua tahun ini aku berteman dengan Mey, hanya teman biasa. Tak
mungkin aku pura-pura lupa bahwa dialah yang banyak membantuku sejak pertama
kali bersekolah disini. Dia yang pertama kali menyapa dan berkenalan dengan ku,
juga selalu ada disaat aku butuh teman sebagai tempat bertanya ku. Mey gadis
yang manis, baik, lepas dari dia seorang Nasrani. Dan Natal tahun lalu aku
berhasil menyiasatinya agar tak perlu mengucapkan selamat Natal padanya, tapi
tahun ini ?
“Mau kan, Arif ?” Kali ini Mey
menggenggam tangan ku. Aku mencoba
melepaskan, tapi kembali tangannya menggenggam tanganku.
“Besar sekali arti sebuah kartu untukmu
?” tanya ku hati-hati, merasa tak enak hanya mendiamkan nya. Mey tersenyum.
“Tentu, teman. Itu menunjukan betapa
pedulinya kamu padaku. Jangan lupa, aku akan menunggunya.” Ucapnya. Aku kembali
terdiam dan memandanginya yang berjalan menghampiri teman-temannya.
Kuhempaskan nafas kuat-kuat. Ya
Allah, sampai rasanya putus lengan dan kakiku bolak-balik naik turun tangga
dari lantai dasar sampai lantai teratas sebuah Mall hanya untuk mencaikan kartu yang cocok untuk Mey. Sia-sia, tak
ada kartu yang sesuai dengan keinginanku.
Aku melupakan sesuatu, Mey menyuruh ku untuk membuat sendiri kartu itu.
Dengan ringan, kembali aku naik ke lantai teraras Mall tersebut. Aku akan membuatkan kartu spesial untuk Mey.
Sekilas dapat kucium wangi kartu
merah hati berbentuk bulan sabit dan bintang ditengahnya itu. Lalu dengan
hati-hati, kutuliskan kalimat demi kalimat dengan tinta emas didalamnya.
“Mey
yang baik, kita telah berteman di Sekolah ini. Kitapun selalu bahu-membahu
menyelesaikan tugas dari guru-guru kita. Tapi, jangalah kamu melupakan, imanku
bukan kepercayaanmu, keyakinanmu pun bukan imanku. Tuhan mu adalah Bapak yang
kamu sembah, dan Tuhan ku hanya Allah tempatku menghamba. Ku harap engkau mengerti,
mengapa tiada ucapan selamat Natal di kartumu ini.” Aku tersenyum.
Esoknya
harinya..
“Mey !” teriaku tertahan melihat dia
berdiri termangu di depan pintu ruang kelas dan menatapku aneh.
“Apa maksudmu dengan kata-kata ini
?” sambil memberikan kartu yang aku kirim kemaren. Sesaat aku terpana.
“Mey, untuk mulah agama mu, dan
untukkulah agama ku.” Ujarku tegas setelah diam beberapa saat. Mey menatapku
tak mengerti dan secepat kilat dia berbalik dan berjalan tergesa-gesa
menjauhiku. Semoga engkau bisa memahaminya, Mey. Aku tertunduk. Allah,
Engkaulah Yang Maha Tahu apa yang terbaik untukku.
lagu nya enak di dengerin :D
BalasHapuslagu nya inggriss teruss :D
BalasHapustpi enak jga dengerin nya :) :)